Jumat, 15 Desember 2017

SEUJARAH TARIAN ALEI MEUNARI


            Tarian Alei pertama bangkit pada tahun 1623, pada zaman tersebut kronis masyarakat kalangan kaum muda dan tua tradisi budaya yang  berkembang adalah piasan rakyat yaitu judi dan sabung ayam.
                Perkembangan tradisi tersebut makin hari makin meluas sehingga membuat fenomena alam yang berubah yang menjadi huru-hara dikalangan masyarakat, dengan kata lain diskriminasi sosial akibat terjadinya pencurian, hilang harta benda yang tidak pernah surut.
                Dikalangan gampong karak dengan kedatangan tujuh orang raja dengan kata lain Raja Tujoeh yang pernah singgah di gampong karak antara lain:
  1. Raja Umpeing Besoe
  2. Raja Bulu kabat
  3. Nenek Taga Bumi
  4. Raja Sunsang Bulu
  5. Raja Meuredom Sakti
  6. Raja gagak
  7. Raja Bungsu
Ketujuh orang raja itu membawa perubahan pesat dengan menampilkan sebuah tarian rakyat dengan gaya yang sangat mengagumkan pada tahun 1623 di lembah krueng Woyla yang bertempat di lokasi sarah drien boeh iteek Gampong Karak Kecamatan Samatiga dibawah pimpinan seorang wedana.
            Tarian Alee berasal dari dua kata, tari dan Alei. Tari adalah lenggang lenggok yang dilakukan oleh setiap pemain, sedangkan Alei adalah sebatang pohon kayu yang sering disebut bak tampu yang telah kering dengan ukuran 3 depa dan besarnya sebesar paha orang dewasa yang mengandung tenaga refleks atau gerakan tarikat tubuh yang didasari pusaka namblah yaitu ie, apuy, angen, tanoh, darah, gapah, utak, minyak, di, wadi, mani, manikam, daging, kulit, tulang, bulu.
            Dari pince inankeh jet kesaboeh kekuasaan Allah, megrak sesuatu dengan grak Allah, hudep sesuatu dengan hayat Allah.
Dari sejak kebangkitan tarian Alei masyarakat telah mengenal budaya yang sangat luar biasa, sebagian pendapat tarian Alei masuk ke Aceh pada abat ke 14 berasal dari negeri Persia.Cerita ini dikutip dari seorang baca hikayat prang sabi yang nan gopnyan Alm Teuku Ali Mise Got (Chik Koek) dan Tokee Suh sebagai anggota pemain pada masa itu dan beliau meninggal pada tahun 1994 dengan usia 124 tahun.
Pada tahun 1922 seorang yang membangkitkan kembali tarian Alei yang bernama Pang Balang bersama temannya Apa Musee (Pawang Rimueng) yang berkedudukan di Meulaboh kemudian diwariskan kepada yahwa Hasan juga dikembangkan di karak bersama Abu Syamah di sebuah pesta perkawinan keluarga almarhum Geuchik Raden yaitu Nek Teuku pang bintang pada tahun 1950. Kemudian ditampilkan yang kedua di gampong Lueng Baro dan Alue sundak dalam pesta rakyat menyambut kedatangan Wedana yang merupakan pimpinan wilayah pada masa itu.
Warisan penarian Alei ini diteruskan kembali kepada adiknya yang berkedudukan di gampong Alue Batee kecamatan Arongan Lambalek yang sampai saat sekarang masih dilestarikan.
Atas sejarah yang masih tersimpan dan tarian yang masih bergerak dikaji dan dikembangkan kembali dengan penuh rasa kebersamaan atas kerja sama yang baik dalam melestarikan tarian tersebut, bersama saudara Bapak Karim dan Bapak Juaini juga aparat gampong Alue Batee dengan harapan tarian ini di kembangkan kembali agar supaya tarian ini jangan sampai hilang. Dan dengan dukungan sepenuhnya oleh Camat woyla Barat Bapak Desrizal Eddi S.Sos.

sumber : http://woylabarat.acehbaratkab.go.id/seni-budaya/tarian-alei-meunari

SEJARAH TARIAN BANGSAWAN

Hamdan wa syukran lillah, shalatan wa salaman ‘ala Rasulillah. Syukur Alhamdulillah penulis patjatkan ke hadirat Allah SWT atas inayah dan hidayah-Nya yang telah diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan sebuah buku yang berjudul “Sejarah Tarian Bangsawan”. Selawat dan salam juga penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, para sahabat dan pengikutnya sekalian.
Penulisan buku ini tidak mungkin dapat terselesaikan dengan baik, jika tanpa bantuan semua pihak. Untuk itu meskipun tidak seluruhnya dapat penulis sebutkan dalam kesempatan ini, penulis merasa sangat berhutang budi sekaligus menghaturkan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang ikut terlibat dalam penyusunan buku ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Wassalam
Buku ini dikembangkan dengan karakteristik sebagai berikut:
  1. Berdasarkan bukti sejarah yang masih tersimpan  sebagai saksi mata serta fenomena alam yang sangat mengagumkan sebagai landasan atau fantasi rakyat di kalangan Woyla Barat yaitu Gampong Karak pada tahun 1833 di masa kejayaannya.
  2. Disajikan kembali dengan bahasa yang sederhana sesuai dengan tingkat perkembangan spikologis masyarakat yang bernuansa berbudaya.
  3. Dilengkapi dengan sebuah tarian dengan ilustrasi-ilustrasi yang menarik dan dikemas secara maksimal yang layak disajikan kepada masyarakat.
  4. Disertai dengan syair-syair yang bernuansa sejarah yang mengisahkan latar belakang kehidupan masa yang lalu di zaman kolonial Belanda.
Kronologis Sejarah Tarian Bangsawan Dizaman Kejayaan Karak Pada Tahun 1833 Kecamatan Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat
Dizaman dahulu kala Karak merupakan sebuah gampong  yang terpencil, penuh dengan fenomena alam yang menjadi saksi belaka yang membuat kenyayaman dan ketenangan dalam kehidupan penuh cinta damai antara Ulama dan umara serta dikembangkan ilmu-ilmu yang bermanfaat, tauhid, tasawof, fikah, serta ilmu menejemen kepemimpinan yang menjadi benteng kehidupan dunia dan akhirat di bawah pimpinan Tgk Ahmad Busu dan pendampingnya Tgk Alue Bubrang pada tahun 1833-1842.
Karak dipimpin oleh seorang ulama karismatik dan didamping oleh seorang pemaisuri (Siti Zalikha) yang cantik yang hidup berdampingan di dalam istana yang megah yang melambangkan tanda kejayaan Rumoh Raja
            Bak Pinto tamong Pula bak murong
            Bak ulee Jurong bak Asan Geupula
            Bak Aki renyeun Pula bak Meulu
            Bak Bineh Pagu Pula Bak Jeumpa
                        Bak Meurak Pula Teungoh Leun
                        Bak Gaki Mideun Bak Tring Geupula
                        Bak Bineh Kulam Pula Silak-lak
                        Bak Jalan Jak-jak Naleung Belanda
Makna yang tertera dalam semboyan tersebut adalah “Bak pinto tamong pula bak murong”melambangkan bahwa pada saat itu masyarakat selalu mengambil daun tersebut untuk sayuran dalam menu makanan dan masyarakat pada saat itu selalu membangun komunikasi dengan keluarga istana dalam urusan kepribadian dan permasalahan lainnya. Makna yang tertera dalam semboyan “Bak Ulee Juroung bak Asan geupula” melambangkan sebagai obat penawar penyakit Cacar. Makna yang terkandung “Bak aki renyeun Pula Bak Meulu” melambangkan kesucian hati ulama dan umara dalam membangun nanggroe tanpa memilah-milah antara orang miskin dan orang kaya. Semboyan “Bak Bineh Pagu Pula Bak Jeumpa” melambangkan Kemegahan dan kejayaan istana. Semboyan “Bak Meurak Pula Teungoh Leun” melambangkan keharuman istana. Semboyan “ Bak Gaki Mideun Bak Tring Geupula” melambangkan pertahanan istana untuk mengantisipasi serangan dari musuh. Semboyan “Bak Bineh Kulam Pula Silak-lak” melambangkan untuk obat para prajurit dalam menuju medan peperangan sebagai penangkal dari penyakit. Semboyan “Bak jalan jak-jak Naleung Beulanda” melambangkan kemarahan dan kejijikan terhadap beulanda, rumput yang melambangkan fenomena alam diinjak begitulah kejijikan dan kemarahan bangsa Aceh terhadap kolonial belanda.
Disamping tanda-tanda rumoh Raja dan Sidroe ulama yang megah juga ada geupudeuk persiapan teurimong jamee rakyat yang melambangkan  oeh na piasan bak rumoh raja, jeut na buet rakyat.
“Na pacoek rah ie bak gaki renyeun” melambangkan untuk cuci kaki ketika masuk dalam istana“Bak Ulee pagu na peunerah” melambangkan kerja sama yang baik dan hasil pun bagi sama. “Bak ulee istana geupedong leusong (Jeungki)” melambangkan Top pade ketiak na kenduri, sapue kheun  sapue pakat yang ladum meu boh panah laen ditamah dengon boh kulu, yang ladum breh di jak rah yang ladum pegah pekap apuy bak dapu. Begitulah adat serta tradisi manakala ada kenduri bak rumoh raja.
Latar belakang gampong karak yang berkedudukan di kecamatan Woyla Barat pada waktu itu lingkungannya masih hutan belantara yang dihuni oleh bermacam-macam marga satwa antara lain gajah, Rimueng, cagei dan rimbei dan lain-lain. Itulah saksi mata yang membuat Woyla tidak terasa sepi penuh sura binatang rimba.
Walaupun suasana waktu itu yang begitu seram, dan lingkungan juga masih kelam namun semangat Putroe dengon Raja tidak pernah padam. Suara rapai, sura canang dan suara tambo dengan gendrang makin berkumandang walaupun “ makanan geupajoh boh janeng teuruboh, Bajee kulet kayee geusok bak tuboeh, lampu panggang dama geucok keusuloeh, tapi hudep Raja, Umara dan ulama dengon rakyat hantom pernah kiroeh.
Adat kalheh gebagi, hukom kana bak tempat.
- Ureung inong yang top pade bak jeungki samoe balee (sama-sama janda) nyan geukhen adat
- Aneuk muda koh koh kayee pegleuh naleung bak jeurat nyan juga adat
- Teungku yang beut doa bak jeurat nyan gekheun hukom ngon adat ka meusapat donya akhirat.
Juga woyla setiap sagoe hukom kalheuh geuato juga adat ka meupat tempat, lagee uteun na pawang uteun, unoe na pawang unoe, inambei na pawang inambei, blang na keujrun blang, pekan na syahbanda.
Ban mandum hasee wasee pada akheu thon geuyue peusapat, dua bagian geucok keu rakyat yang geuserah langsong keu ulee gampong bak balee duk pakat,  dan yang satu bagian lagi  geu cok ke istana geupejaroe  bak tuan putroe untuk peugot piasan rakyat dengon geuboh nan piasan tujoh uroe tujoh malam bak kalangan istana.
Oeh lheh geumeduek pakat, persiapan pih ka hasee pakat pih kaputoeh pegeut piasan bak istana (rumoh raja) juga getampilkan tarian-tarian aneuk nanggroe antara laen rapai, rapai daboeh, dalupa, ratoh duek, megeudeu, tarian phoe, tarian ranum lampuan, sedati, geleng, juga tarian bangsawan dan laen-laen. Juga tarian-tarian yang mengandung penuh bernuansa islam sering ditampilkan ketika menyambut bulan puasa seperti Rateb Binsa, jalateh  dan tarian Alee di bulan safar. Juga petunang dalaee khairat, meusifet dengan  sifet dua ploh (pengkajian sifet dua ploh secara ketauhidan).
Penampilan tarian-tarian ini detempatkan secara terpisah, ada dikalangan istana juga ada ditempat khusu yang telah dipersiapkan oleh masyarakat.
Didalam pesta bak rumoh raja dalam kawasan istana sering ditampilkan pada akhir tahun sebagai piasan rakyat, juga geupegot piasan kerajaan yaitu tari anek bangsawan dengan personil: “Dua droe yang jeut ke ulee balang, gepileh aneuk muda-muda badan yang kukoh bentuk tuboeh yang teuga, mata mirah su pih raya, misee sabee jiputa-puta, juga dibekali dengan dua pucuk senjata, yang berdiri di sebelah kanan dia dipersenjatai senjata pedang dan yang berdiri disebelah kiri dipersenjatai senjata tombak, juga diberikan bekalan syair penuh semangat dalam menjaga istana. Bunyi syairnya:
Bedoh Saudara para bangsawan
Para pejuang jak bangun nanggroe
Canang tambo sereta gendrang sayang
Bandum angkatan tabangun kedroe
            Hai adek cutbang bentara
            Hai saudara aduen ngon adoe
            Nyawong tuboh sereta hareta sayang
            Kebekai taba tabangun nanggroe
Rencong peudeung pusaka ayah
Tumbak ngan siwah pusaka nek droe
Katrep that keubit manoe lam darah
Jinoe maruwah aceh tapuwoe
                        Bangsa Aceh bangsa yang megah
                        Bangsa Metuah paleng goet budoe
                        Udep ngon Mate hukom bak Allah
                        Asai penjajah bek na lam nanggroe
Dan kronisnya lagi pada waktu itu oleh orang tuanya ayah beserta ibu mengajak anaknya turut berperang melawan penjajah dengan kata-kata yang dalam pula dengan cucuran air mata lagi dibekali dengan pusaka rencong mepucoek yang disimpan di dalam kamar rumahnya karena waktu itu kekejaman belanda sudah mulai bergerak baik dengan praktek kerja paksa, dan dikuras tenaga dalam bentuk kerja kutai rudi. Yang tidak sanggup lagi mempertahankan hati nurani serta harga diri yang diinjak timbullah kemarahan bangsa Aceh terhadap belanda disana sini yang tidak ada lagi duduk berpangku tangan yang mengarah anaknya menuju medan pertempuran juga dibekali dengan sedikit makanan yaitu Boeh Janeng jampu boeh pisang sebagai pengganti nasi yang menjadi menu sarapan. Di situlah ungkapan para orang tua ayah dan ibu dalam memberi semangat kepada putranya dalam menuju medan peperangan dengan pantulan syair:
Uroe-uroe kasepoet melee-le asa
Sagoep-sagoep jiteka laoet-laoet dengon blang
Wahee-wahee aneuk loen muda-muda bahlia
Bedoeh-bedoeh jak bungka maju-maju dalam prang
            Rencoeng-rencoeng mepucok tampoek suasa
            Ke bekai gata taba betalhat nibak badan
            Nyankeuh saboeh penulangyang uloen bri kegata
            Kadang singoh aneuknda gata syahid dalam prang
Aneuk langsoeng diseot serta lembot suara
Sereta dengon ie mata di jieh  ile bak badan
Ulee-ulee disujud kanibak gaki poma
Sereta dilakee doa kemeung jak u dalam prang
            Sereta laju dikheun kalam menoe jibuka
            Izinkeuh wahe poma kesidroe uloen tuan
            Kadang singoh hana lee tanyoe merumpok muka
            Kadang-kadang aneuknda singoh syahid dalam prang
Megoeh-megoeh mehasee lagee ban uloen mita
Hanakeuh wahe poma  kenue uloen jak riwang
Megoeh-megoeh mesampoe lagee ban ulon cita
Megoeh-megoeh merdeka nanggroe lon nyoe jipulang   
Juga yang memegang senjata tombak juga dibekali dengan mantra pertahanan tubuh “ Hu sikuta iman, seup keuh oehnan ku sanga mara, lam kulet kuta beusoe lam asoe kuta menila, lam darah besoe meurantee lam hate po ku Allah”. Yang dingat Allah Allah. Begitulah persiapan untuk diingat sebagai bekal penjaga istana, jangan sekali-kali lupa mengingat Allah Allah, dan apabila kelailaian mengingat dalam hati mantra tersebut bisa mengundang malapetaka yang mengakibatkan bisa hancurnya istana. Begitulah pesan raja kepada para bangsawan dan Penjaga istana.
Yang jeut keu aneuk bangsawan juga geupileh nam droe aneuk dara yang jroh rupa, bulee mata yang lenteuk cerdeik berbahasa, su yang leumoh ji tuoeh adat jiba, adak na jamee han di pelikot, disamboet ngon lapang dada, ranup digrak dijok kedroe, jipejaroe lam cerana, bu digrak dalam talam, geupeit sajan keunan jiba. Begitulah cara pejamee tamu ketika makanan disajikan ke jamee teuka.
Tarian bangsawan ini sebuah tarian yang mengambarkan ukhuwah keakraban penuh cinta kepada raja, rasa hormat kepada ulama, juga saling kenal mengenal sesama bangsa serya penuh pengapdian kepada nanggroe yang tercinta.
Syair yang disandungkan didalamnya bernuansa penuh semangat satria prajurit dalam rangka menuju medan pertempuran melawan penjajah kolonial belanda, yang menggambarkan penuh semangat juang dalam rangka membela nanggroe dengan semboyan dari hati ke hati “hudeup ngon mate hukom bak po teu Allah, asai penjajah bek na lam nanggroe. Begitulah sumpah dan janji prajurit dalam membela agama, bangsa dan negara.
Tarian bangsawan ini sering ditampilkan di saat keberangkatan prajurit menuju medan peperangan, terima kedatangan tamu agung berkunjung ke istana, pesta pekawen aneuk raja,  turun mandi aneuk raja dan sunat rasul aneuk raja, juga dalam kalangan rakyat, ulama dan umara.
Kisah ini dikutip dari kata demi kata, kalimat demi kalimat juga cerita dari Tgk. Mousthafa Aly (Alm)  serta di kaji kembali sesuai dengan kebuktian alam yang masih tersimpan juga fakta masih berbicara  dari pewaris keluarga besar almarhum Abu Chik Di Karak serta pemangku adat lainnya serta mengisahkan bait demi bait penuh dihayati dan dipelajari oleh saudara Tgk Juaini dari sekilas sejarah dimasa kejayaan Karak pada tahun 1833 dan didukung sepenuhnya oleh Camat Woyla Barat Bapak Desrizal Eddi S.Sos.

SUMBER : http://woylabarat.acehbaratkab.go.id/seni-budaya/tarian-bangsawan

Jejak Sang Ulama Teungku Di Ujung - Cahaya Islam di Pulau Simeulue


Teungku Di Ujung yang bernama lahir Halilullah adalah seorang ulama besar dari Minangkabau yang menyebarkan Islam di Pulau Simeulue, Kesultanan Aceh pada abad ke-14 atau 15, dan berhasil mengislamkan hampir seluruh masyarakat pulau itu.
Pada masa Sultan Iskandar Muda memerintah kerajaan Aceh Darussalam, Tengku di Ujong dari Minangkabau hendak berlayar menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Sebagai negara islam yang termaju di kawasan Asia Tenggara kala itu, membuat Tgk Halilullah mengunjungi Aceh untuk menyempurnakan ilmunya sebelum berhaji.
"Saat tiba Tgk Diujung mengutarakan niatnya untuk berhaji kepada Sulthan Aceh. Tapi Sultan meminta Tgk Diujung menundanya dan menugasi Tgk Diujung mengislamkan penduduk Pulau Simelue," kata Idul.
Untuk membantu Tgk Diujung dalam melaksanakan tugas mulia tersebut, Sulthan Aceh pun mengutarakan niatnya mengawinkan Tgk Halilullah dengan gadis asal Pulau Simelue yang saat itu tinggal di istana Sulthan Aceh. Kecantikan paras dan budi pekerti luhur yang dimiliki wanita bernama Putri Simeulur membuat Tgk Halilulah menerima tawaran Sulthan.
"Makam yang bersebelahan dengan makam Tgk Halilullah itu merupakan makam Putri Simelur yang juga istrinya. Dia (Putri Simelur) ikut menyebarkan Islam bersama Tgk Halilullah di setelah Tiba di Simelue,"kata Idul.
Meski jauh dari pusat Kota Sinabang, makam Tgk Diujung tetap ramai dikunjungi terutama saat perayaan hari besar Islam. Selain warga setempat, peziarah berasal dari Sumatera Barat yang merupakan kota kelahiran Tgk Diujung serta wisatawan dari berbagai daerah.
Areal pemakaman diujung Barat Kota kepulauan itu, hanyalah satu dari sekian saksi masuknya Islam ke Pulau Simeulue. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Simeulue, Abdul Karim mengatakan selain Tgk Diujung, sosok Tgk Bakudo Batu atau Tgk Banurullah, turut berperan mengislamkan penduduk pulau Simelue yang konon dikenal 

Teungku Di Ujung merupakan ulama Minangkabau yang berasal dari Ulakan, Pariaman, dan merupakan murid dari ulama besar Syeikh Burhanuddin Ulakan Burhanuddin Ulakan Pariaman atau dikenal dengan sebutan Syeikh Burhanuddin Ulakan (lahir tahun 1646 di SintukSintuk Toboh GadangKabupaten Padang Pariaman - meninggal 20 Juni 1704 pada umur 58 tahun) adalah ulama yang berpengaruh di daerah Minangkabau sekaligus ulama yang menyebarkan Islam di Kerajaan Pagaruyung. Selain itu ia terkenal sebagai pahlawan pergerakan Islam melawan penjajahan VOC. Ia juga dikenal sebagai ulama sufi pengamal (MursyidTarekat Shatariyah di daerah Minangkabau, Sumatera Barat.
Menginjak usia dewasa, Syeikh Burhanuddin mulai merantau dan meninggalkan tempat orang tuanya. Syekh Burhanuddin pernah belajar di Aceh dan berguru kepada Syekh Abdur Rauf as-Singkili, seorang Mufti Kerajaan Aceh yang berpegaruh, yang pernah menjadi murid dan penganut setia ajaran Syekh Ahmad al-Qusyasyi dari Madinah. Oleh Syekh Ahmad keduanya diberi wewenang untuk menyebarkan agama Islam di daerahnya masing-masing.
Selama sepuluh tahun, Syeikh Burhanuddin banyak belajar ilmu-ilmu keislaman maupun tarekat dari gurunya, Syekh Abdur Rauf as-Singkili. Ia mempelajari ilmu-ilmu Bahasa Arabtafsirhadisfikihtauhidakhlaktasawufaqidahsyari'ah dan masalah-masalah yang menyangkut tarekat, hakikat dan makrifat.


.Teungku Di Ujung wafat dan dimakamkan di Gampong Latak Ayah, Kecamatan      Simeulue Cut, Kabupaten SimeulUE.
 ''menjadi monumen pada saat bencana SMONG (tsunami) pada     tahun 1907 tidak mengalami kerusakan berat, sama juga dengan   bencana tsunami pada Desember tahun 2004''.

Peninggalan
Pada Kamis 27 Desember 2012, tiga orang keturunan Tengku di Ujung, Asydarmansyah Mas, Syawal, dan M Yusri, memperlihatkan surban peninggalan Teungku Di Ujung yang telah berusia 700 tahun. Pameran tersebut digelar di Makam Tengku Diujung, Gampong Lata'ayah, Kecamatan Simeulue Cut,  Kabupaten Simeulue.

Hingga saat ini Keturunan Tengku Diujung masih menjaga barang-barang peninggalan sang ulama besar ini. Selain Surban, masih ada lagi yang lain seperti tombak dan cerek air minum.

Seluruh peninggalan ulama tersebut  masih disimpan dengan utuh. Peninggalan  tersebut siap digunakan untuk kepentingan sejarah, pendidikan, dan budaya pengislaman masyarakat Pulau Simeulue.

Sumber: